BIDIK BALI, DENPASAR – Dwijendra University, Rabu, 11 Mei 2022 menyelenggarakan Festival Aksara Bali untuk sekolah dasar (SD) se-Kota Denpasar. Acara ini digelar di Gedung Dharma Negara Ayala, Lumintang, Denpasar dan dibuka secara resmi melalui pemukulan gong oleh Wali kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Serta dihadiri Dandim 1611/Badung, Kolonel Inf. Dody Trio Hadi mewakili Pangdam IX/Udayana, Ketua Yayasan Dwijendra Dr. I Ketut Wirawan, SH., M.Hum., Ketua Badan Pembina Yayasan Dwijendra, IB. Erwin Ranawijaya, SH.,M.H., Rektor Dwijendra University, Dr. Ir. I Gede Sedana, M.Si., M.M.A., dan undangan lainnya. Adapun Festival Aksara Bali ini sebagai langkah Dwijendra University mendukung program pemerintah dalam pelestarian adat dan budaya Bali, khususnya dalam kaitan pelestarian Aksara dan Sastra Bali sebagai daya dukung bagi pembangunan masyarakat dimulai dari usia dini.
“ Wali kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara memberi apresiasi yang tinggi kepada Civitas Dwijendra University yang telah ikut serta dalam memajukan sekaligus melestarikan Adat dan Budaya Bali melalui Festival Aksara Bali tingkat SD se-Kota Denpasar. “Pertama kami atas nama Pemerintah Kota Denpasar mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Perguruan Dwijendra melalui Universitas Dwijendra yang menyelenggarakan Festival Aksara Bali ini. Kita tahu bahwa Kota Denpasar adalah kota Budaya, sehingga adanya festival aksara Bali ini sangat mendukung pemerintah dalam pelestarian Adat dan Budaya Bali, khususnya Aksara Bali. Tentu kita berharap makin banyak stakeholder yang menyelenggarakan festival serupa untuk pelestarian adat dan budaya Bali,” Kata Jaya Negara.
“ Sementara Ketua Yayasan Dwijendra ini mengatakan, Festival Aksara Bali merupakan pelajaran budi pekerti, karena penulisan aksara Bali mengajarkan sikap yang baik, anak-anak yang belajar aksara ini akan memunculkan aura positif dari dalam dirinya, tentunya dampak positif dari penulisan aksara Bali ini, akan bisa membaca naskah-naskah kuno yang banyak tercecer.
“Bahasa Bali dan Budaya Bali merupakan satu kesatuan yang sangat lekat, karena bahasa Bali merupakan akar budaya Bali. Bahasa, sastra dan aksara Bali merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, agar tetap ajeg dan lestari,” Ujar Ketut Wirawan. (BB/Red).
